logoblog

Cari

Tutup Iklan

Belajar Matematika Lebih Menyenangkan Dengan Metode "Bermain Oke"

Belajar Matematika Lebih Menyenangkan Dengan Metode

Siti Hawa, S.Pd, SD – SDN Batu Tering, Sumbawa Ibarat batu yang terus-menerus terkena tetesan air, sekeras apapun batu itu, tetesan air

Inovasi Guru

INOVASI Pendidikan
Oleh INOVASI Pendidikan
01 Agustus, 2017 09:50:47
Inovasi Guru
Komentar: 0
Dibaca: 9602 Kali

Ibarat batu yang terus-menerus terkena tetesan air, sekeras apapun batu itu, tetesan air akan melunakkannya. Pun, demikian dalam proses pembelajaran. Selambat apapun seorang –siswa dalam menyerap pelajaran, dengan dampingan dan dukungan guru serta dengan latihan terus-menerus, - siswa  yang kerap dianggap tak mampu ini bukan tak mungkin - bisa mengejar ketertinggalan mereka. Yang terpenting, setiap guru hendaknya tak menggunakan kekerasan dalam membimbing siswanya..

Keyakinan inilah yang dipegang erat oleh Siti Hawa dalam mendidik siswanya. Meski siswa yang diampunya hanya berjumlah 10 orang, namun tak sedikitpun hal itu menyurutkan semangatnya. Sebaliknya, kondisi tersebut justru membuatnya tertantang untuk menemukan dan mencoba metode-metode seru dan menarik untuk diterapkan di kelasnya. Semangat ini, diakui Siti, tak lepas dari didikan orangtuanya, terutama sang ayah.

Dari penuturan perempuan penyuka kisah nyata Anak Kusir menjadi Doktor dari Sumbawa ini, ayahnya yang berprofesi sebagai guru selalu mendidiknya dengan disiplin yang tinggi. Terlebih, saat ia diketahui belum bisa membaca--padahal sudah berada pada akhir kelas 3--sebagai konsekuensinya, Siti kecil musti rela menghabiskan waktu untuk membaca halaman buku yang sama secara berulang-ulang, mulai dari selepas magrib hingga tengah malam. Padahal, saat itu listrik belum tersedia di daerahnya. Alhasil, kegiatan membaca yang dilakukannya hingga kelas 4 itu hanya diterangi oleh lampu minyak. “Karena tertanam pengalaman itulah, saya jadi sedih kala ada siswa kelas 4 yang masih belum bisa membaca dan berhitung. Harapan inilah yang kemudian saya tanamkan dalam diri saya. Saya ingin agar tidak ada siswa saya yang mengalami apa yang saya alami. Karena itulah, saya selalu mencoba mencari cara-cara menarik dan seru supaya siswa saya bersemangat dalam belajar serta bisa mengejar ketertinggalannya,” ungkap pengagum Mario Teguh ini memberikan bocoran.

Membuat perubahan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Penggemar olahraga bola voli ini tak memungkirinya. Tak terhitung berapa kali ia mendapati masih saja ada siswa yang merasa down, terutama ketika melihat teman sebayanya sudah menyelesaikan tugas yang ia berikan, sementara siswa yang bersangkutan justru tidak bisa atau tidak juga selesai mengerjakan soal tersebut. Kalau sudah begitu, alih-alih memarahi siswa yang bersangkutan, ia justru mengajak mereka berbincang dari hati ke hati. Dengan lemah lembut, ia mencoba mencari tahu apa yang menjadi kesulitan siswa didiknya. Dari sana, ia lantas mendampingi dan memberi latihan terus-menerus sampai akhirnya siswa tersebut bisa dengan sendirinya.

Apa yang disampaikan Siti memang bukan isapan jempol. Terbukti, meski baru 6 bulan menjadi guru kelas di SDN Batu Tering, siswa kelas 5 yang semula masih kesulitan dalam memahami penjumlahan pecahan dengan penyebut yang berbeda. Kini, dalam bimbingannya, hanya satu siswa yang masih mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal terkait materi tersebut.

“Saya ingat betul, dulu awal mula saya masuk, masih ada siswa yang kesulitan menyelesaikan soal walaupun mereka sudah paham konsepnya. Ketika saya telusuri, ternyata banyak siswa saya yang belum hafal perkalian. Kebanyakan dari mereka masih menjumlahkan angka yang dikalikan,” beber perempuan kelahiran Sebasang, Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa ini.

Daripada menyalahkan kondisi, Siti pun menginisiasi menyanyikan perkalian di kelasnya. Dimana, setiap pagi, 5 menit sebelum memulai proses pembelajaran, ia akan mengajak siswa-siswinya untuk menghapalkan perkalian 2 sampai 9 dengan cara menyanyikannya. Setelahnya, ia akan mengetes satu-satu hapalan anak didiknya.

 

Baca Juga :


“Dengan pengulangan ini, alhamdulillah anak-anak yang tadinya tidak bisa dan belum hafal jadi hafal dan mulai bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan. Padahal tadinya mereka kesulitan bila pertanyaan diberikan secara lisan. Kini, baik pertanyaan diberikan secara tertulis maupun lisan, mereka bisa menjawabnya, “terang perempuan yang sudah menjadi pendidik sejak 2004 silam ini.

Tak cuma itu, agar hapalan perkalian anak didiknya makin kuat, di setiap akhir proses pembelajaran pun ia kerap memberikan tes seputar perkalian. Hadiahnya? Sederhana saja. Mereka yang bisa menjawab diperbolehkan pulang lebih dulu dibanding teman-teman mereka yang lain. Menariknya, meski tak ada hadiah khusus, kebiasaan yang sudah dilakukannya selama 6 bulan terakhir ini justru kerap dirindukan anak-anak didiknya. Tak jarang, seperti yang diceritakan Siti melalui sambungan telepon, ketika ia lupa melakukan “permainan” ini, siswanya justru kerap mengingatkannya.

Toh begitu, anggota KKG PGRI ini tak memungkiri selalu ada fase dimana siswanya dihinggapi kejenuhan pada pelajaran matematika. Kalau sudah begitu, jurus “bermain oke” pun ia keluarkan. Dimana dalam permainan ini, ia menantang setiap siswa di kelasnya untuk menyebutkan kata oke bila mereka mendapatkan kelipatan tertentu, sebagaimana yang ia tentukan. Meski mulanya kegiatan pecah suasana ini mendapat respon negatif dari anak didiknya, lambat laun anak-anak ini justru menikmatinya.

“Yang terpenting, sebagaimana petuah Bapak saya dulu, kita harus terus mencari cara-cara baru dan berani berubah. Karena perubahan itu berawal dari diri kita. Kalau kita tidak mengubah diri kita, kita tidak akan pernah maju. Jadi ya, kalau saya ingin anak-anak didik saya lebih maju, maka saya harus terlebih dulu mengubah diri saya jadi lebih baik,” ujar alumni PGSD Universitas Terbuka Mataram penuh semangat.

Siapa sangka, keberhasilannya dalam menanamkan perkalian pada anak didiknya ini justru  membuat guru-guru lain di SD tempatnya mengajar tertarik untuk menerapkan metode yang sama di kelas mereka. Alhasil, kini hampir semua guru kelas di SDN Batu Tering kini mengikuti metode yang diterapkannya di kelas-kelas yang lebih rendah. [] - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan