logoblog

Cari

Tutup Iklan

“Guru harus bisa menurunkan ego dan belajar dari anak”

“Guru harus bisa menurunkan ego dan belajar dari anak”

I Nyoman Tanaya, S.Pd, SD Matematika, bagi sebagian besar pelajar, mata pelajaran yang satu ini kerap menjadi momok. Rumus yang rumit, buku

Inovasi Guru

INOVASI Pendidikan
Oleh INOVASI Pendidikan
05 Agustus, 2017 02:18:45
Inovasi Guru
Komentar: 0
Dibaca: 5147 Kali

I Nyoman Tanaya, S.Pd, SD

Matematika, bagi sebagian besar pelajar, mata pelajaran yang satu ini kerap menjadi momok. Rumus yang rumit, buku diktat yang tebal dan tak menarik, serta guru yang kurang inovatif dalam menyampaikan materi kerap ditengarai sebagai penyebab rendahnya minat siswa untuk menekuni pelajaran yang satu ini. Namun tak demikian dengan yang terjadi pada murid kelas 6 SDN 4 Bentek Kecamatan Lombok Utara. Di tangan Nyoman Tanaya, matematika yang kerap dibenci dan dihindari justru menyenangkan untuk dipelajari.

Ditemui usai mengajar, pria kelahiran Tanjung, 31 Desember 1962 ini mengaku tak memiliki trik khusus. Yang ia lakukan sederhana saja. Ia jarang meminta anak-anak didiknya mengeluarkan buku paket tiap kali pelajaran matematika tiba. Sebaliknya, ia lebih suka memulai pelajaran dengan memberi teka-teki pada murid-muridnya. Tak cuma itu, agar lebih maksimal dalam menyampaikan materi pembelajaran, pengagum Ki Hajar Dewantara ini sengaja menyisihkan 30-40 menit setiap harinya untuk mereview materi yang akan ia ajarkan. Hasilnya, ia terbiasa membuat soal sendiri. Soal-soal buatannya itu kerap ia gunakan sebagai pengantar sebelum ia masuk ke materi inti. Tujuannya, agar para siswanya paham konsep dari rumus yang akan ia sampaikan.

“Buat saya, menghafal itu mestinya jadi cara terakhir. Harusnya guru menjelaskan dulu konsep dasarnya ke anak, walaupun itu butuh proses. Karena itulah, saya biasanya baru minta anak-anak mengerjakan dari buku paket kalau mereka sudah paham 70% dari konsep dasarnya. Soal-soal yang harus mereka kerjakan pun tidak semuanya. Anak-anak boleh memilih soal-soal mana saja yang ingin mereka kerjakan. Misalnya ada 10 soal, mereka boleh memilih 5 dari 10 soal yang tersedia,” jelasnya.

Diakui Nyoman, mulanya matematika menjadi pelajaran yang kurang difavoritkan anak didiknya. Umumnya, ketakutan tersebut muncul karena mereka khawatir memberikan jawaban yang salah dalam menjawab soal-soal yang diberikan. Untuk mengatasinya, pria yang sudah mengajar selama 35 tahun ini tak pernah bosan membesarkan hati anak-anak didiknya.

“Saya selalu bilang pada mereka, sebenarnya matematika itu jangan kamu takut. Kalau sekarang pak guru salahkan kamu, terus coba lagi karena namanya kita belajar. Kenapa kita pelajari karena jelas kita belum bisa. Kalau kita sudah bisa ya kita tidak perlu pelajari ini,” ujarnya, membocorkan pesan yang selalu ia berikan tiap kali murid-muridnya mulai menyerah dengan soal-soal yang ia berikan.

Pun, diakuinya, dirinya bukanlah tipikal guru yang suka menghukum murid bila mereka melakukan kesalahan. Untuk menyadarkan sang anak didik, alumni Universitas Terbuka ini mengaku lebih memilih mengingatkan mereka secara terbuka. Ia percaya bila ada perilaku murid yang tidak sesuai aturan dan diketahui oleh siswa lain pasti akan membuat murid bersangkutan berpikir ulang untuk melakukannya lagi, sebab mereka pasti akan jadi bahan ledekan teman-temannya.

 

Baca Juga :


Dicontohkannya, suatu ketika salah satu murid yang ia tahu tak terlalu bagus dalam pelajaran matematika tiba-tiba bisa menjawab seluruh soal yang ia berikan secara cepat dan tepat. Penasaran, ia pun mencoba menanyakan pada sang murid bagaimana ia menemukan jawaban itu. Tak bisa menjawab pertanyaan yang ia berikan, Nyoman pun coba menebak apakah sang murid menggunakan kalkulator dalam mengerjakan soal-soal yang diberikannya. Tak disangka, belum juga si siswa bersangkutan menjawab, teman-temannya justru bersautan memberi tahu Nyoman bila murid tersebut memang menggunakan kalkulator. Menjadi olokan teman si kelas, si murid akhirnya dengan malu-malu mengakui bila dirinya memang menggunakan alat bantu hitung dalam mengerjakan soal yang ia berikan. Pengakuan itu, masih menurut Nyoman, tak lantas membuatnya marah. Sebaliknya, dengan lemah lembut ia mencoba menjelaskan pada sang siswa mengapa ia perlu memahami konsep berhitung yang ia ajarkan, termasuk kenapa menggunakan alat bantu hitung justru akan merugikan di kemudian hari bila ia tak lebih dulu paham proses menghitungnya.

“Saya bilang ke murid itu, kalkultor tidak akan bohong. Apa yang kamu pencet atau apa yang kamu harapkan akan keluar disana. Pak guru harapkan kamu jangan memakai kalkulator karena betul saja tidak cukup. Yang pak guru tanyakan kan bagaimana caranya kamu mendapatkan ini, kan kamu belum bisa. Makanya usahakan jangan pakai kalkulator, tapi hapalkan itu perkalian, penjumlahan itu bagaimana. Kalau pakai kalkulator nanti kamu cuma tahu hasilnya tapi tidak pernah tahu bagaimana caranya,” ungkapnya.

Menariknya, bila umumnya anak-anak yang pernah dimarahi guru cenderung akan kehilangan minat untuk mempelajari mata pelajaran yang diampu oleh guru yang memarahinya. Hal tersebut tidak berlaku pada murid-murid Nyoman. Diungkapkannya, siswa yang pernah ia tegur sebelum ujian kini justru menjadi lebih berani bertanya bila ia tak paham dengan apa yang ia ajarkan. Toh begitu, Nyoman tak lantas jumawa. Baginya, perubahan si anak didik juga tak lepas dari peran keluarga, utamanya orangtua yang perhatian terhadap perkembangan pendidikannya.

“Saya percaya tujuan pendidikan itu adalah memanusiakan manusia, seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Artinya, kalau ide ini diterapkan dengan sungguh-sungguh, guru ketika ingin memberikan ilmu pada anak didik semestinya dilakukan dengan lemah lembut, setidaknya menyenangkan. Dan yang paling penting, guru musti paham dengan materi yang akan diajarkan. Intinya jangan pernah bohong ke anak. Kalau memang kita tidak tahu jawabannya, lebih baik jujur saja. Guru itu harus bisa menurunkan ego dan belajar dari anak,”paparnya.

Alhasil, kini dari 27 siswa yang diampunya, hanya 2 orang saja yang masih tak terlalu antusias mempelajari matematika. Sementara sisanya,sebagaimana diakui oleh mantan pengajar di SD 1 Kayangan ini, sangat menikmati proses pembelajaran matematika yang disampaikannya.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan