logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menginspirarsi Dengan Hati: Fasilitasi Tanpa Menggurui

Menginspirarsi Dengan Hati: Fasilitasi Tanpa Menggurui

Drs. Giyanto, M. Pd – SMPN 1 Karangpandan, Karanganyar Jawa Tengah Karena hidup tak ubahnya serangkaian proses pembelajaran, di mana untuk menjadi

Inovasi Guru

Diah Utami
Oleh Diah Utami
16 Agustus, 2017 16:39:44
Inovasi Guru
Komentar: 0
Dibaca: 2900 Kali

Drs. Giyanto, M. Pd – SMPN 1 Karangpandan, Karanganyar Jawa Tengah

Karena hidup tak ubahnya serangkaian proses pembelajaran, di mana untuk menjadi seorang pembelajar kehidupan, bersikap terbuka pada setiap ilmu baru sudah menjadi keharusan, tak peduli dari mana datangnya ilmu-ilmu tersebut. Berbekal keyakinan itulah, tak heran bila kemudian Giyanto tak pernah jumawa meski sudah bertahun-tahun memiliki pengalaman dalam memfasilitasi pelatihan-pelatihan guru. Sebaliknya, ia justru melihat proses fasilitasi yang dilakoninya sebagai bagian dari upayanya membuka wawasan sekaligus mendapatkan inspirasi-inspirasi baru.

Meski secara umum dalam beberapa program pendidikan yang pernah diikutinya memberikan pembelajaran dan tambahan pengetahuan yang luar biasa bagi dirinya, namun tak ia pungkiri bila Program Guru BAIK INOVASI yang menggandengnya sebagai fasilitatorlah yang memberinya kesempatan untuk membuka cakrawala baru, baik dalam hal memfasilitasi maupun pesertanya.

“Konsep PDIA yang diusung INOVASI sejak awal membuat program ini berbeda. Meski menurut saya belum 100% konsep tersebut tertangkap dan terimplementasi namun saya merasa peserta pelatihan diberikan kelonggaran untuk tumbuh dan berkembang,” ungkap pria yang akrab disapa Pak Gi ini.

Untuk merespon kondisi tersebut, pria yang juga aktif mengajar di SMPN 1 Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah ini mengaku mencoba melihat peserta belajar layaknya benih tanaman sekaligus menempatkan dirinya ibarat petani yang membantu benih-benih tersebut bertumbuh.

“Berangkat dari filosofi itulah, saya merasa memiliki kewajiban untuk memberi kesempatan pada setiap peserta pelatihan untuk tumbuh dengan memanfaatkan kemampuan yang mereka miliki semaksimal mungkin. Yang saya terus tanamkan dalam diri saya adalah bukan apa yang berhasil mereka lakukan saat pelatihan, tapi setelah pelatihan mereka bisa apa,” tuturnya gamblang.

Karena hal itu pulalah, ketika guru-guru di SD 36 Dompu yang didampinginya justru angkat tangan kala anak didik mereka tidak masuk kelas di hari di mana semestinya mencoba menerapkan metode pembelajaran yang mereka gagas, pria kelahiran Karanganyar Jawa Tengah ini justru melihat situasi tersebut sebagai sebuah kesempatan emas yang bisa dimanfaatkan untuk menemukan ide pembelajaran baru. Betul saja, melalui diskusi dan proses penggalian ide, guru-guru yang ia dampingi tersebut justru menemukan gagasan lain, memanfaatkan buku pesan sebagai media pembelajaran.

Di mana, melalui penggunaan buku pesan tersebut para guru yang sebelum-sebelumnya selalu kesulitan untuk bertatap muka dengan para wali murid akhirnya dapat menyampaikan “uneg-uneg” mereka, utamanya yang terkait dengan kesediaan para orangtua untuk mendampingi buah hatinya dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis mereka.

Langkah ini, menurut Giyanto, tak hanya berguna dalam memfasililtasi komunikasi antara guru dan orangtua dalam memantau perkembangan belajar anak didik. Lebih dari itu, metode ini juga bisa dimanfaatkan oleh para siswa untuk berlatih membaca dan menulis meskipun mereka tidak bisa berangkat ke sekolah karena harus ikut orangtuanya pergi berladang di kabupaten lain. Suatu aktivitas yang kerap membuat mereka berhalangan hadir dalam proses belajar mengajar selama jangka waktu tertentu.

 

Baca Juga :


“Kadang, Saya justru heran dengan diri saya sendiri. Entah kenapa, saya kerap merasa mendapatkan sesuatu secara alami, bawah sadar, dan situasional. Mungkin ini juga karena faktor jam terbang sehingga saya lebih bisa menyesuaikan dengan situasi. Sering memfasilitasi sangat menginspirasi saya, sehingga makin ke sini saya justru menemukan inspirasi-inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari peserta maupun rekan fasilitator,” terang alumni Bahasa Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS) ini.

Tak cukup sampai di situ, agar proses fasilitasi yang dilakoninya bisa memberikan hasil yang lebih maksimal, ada trik lain yang selalu ia terapkan, yakni menjaga agar dirinya tetap bijaksana dan tidak menggurui. Sebuah syarat yang diakuinya masih menjadi tantangan berat. Meski tak mudah, penulis buku teks nasional mata pelajaran Bahasa Inggris tahun 2006 ini tetap meyakini bahwa dengan menerapkannya ia akan banyak belajar dari peserta yang beragam. Sebab, ia percaya, bukan tak mungkin bila peserta-peserta yang didampinginya lebih tahu tentang berbagai hal ketimbang dirinya. Pun, ia percaya bahwa seharusnya target utama fasilitasi adalah menumbuhkan awareness dan readiness, dua hal yang menurutnya harus dibangun saat proses fasilitasi terkait program berlangsung.

“Kalau kita bijaksana, kita akan mendapatkan banyak inspirasi. Pun ketika kita tidak menggurui, mereka pasti merasa dihargai. Lagipula, tantangan sebenarnya justru bagaimana saya bisa menginspirasi mereka menjadi orang yang ‘mau dan mampu’ sebab secara sosial, akademik, skill, dan kepribadian mereka sudah memiliki itu semua, belum lagi pengalaman mereka yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah jangan pernah menganggap rendah orang lain dan jangan juga  menjadi terlalu bangga sebab itu akan berujung membuat kita menjadi orang yang sombong,” tegas pria yang telah menggeluti profesi guru sejak tahun 1986 ini.

Untuk menjaga dirinya agar tidak terjebak dalam perasaan bangga yang berlebih, penyabet peringkat 1 seleksi kepala sekolah 2016 oleh Disdikpora Kabupaten karanganyar dan LP2KS (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah) ini mengaku selalu berusaha merefleksi diri. Salah satunya, sebagaimana yang dituturkannya, adalah dengan meminta masukan dari peserta, rekan fasilitator, maupun penyelenggara kegiatan.

“Jadi ya, pepatah Ki Hajar Dewantoro ‘Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani’ (di depan memberi contoh, di tengah membangun, di belakang memberi dorongan, red.) itu musti dipraktikkan dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.  

https://www.facebook.com/InovasiPendidikanAIP



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.