logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ikhlas Berinovasi Untuk Kemajuan Anak Didik

Ikhlas Berinovasi Untuk Kemajuan Anak Didik

Dewi Kurniati, S.Pd – SD Kalimati Kabupaten Sumbawa Barat “Jadi guru itu yang penting ikhlas karena uang bisa dicari” Petuah itu terus terngiang-ngiang

Inovasi Guru

INOVASI Pendidikan
Oleh INOVASI Pendidikan
24 Agustus, 2017 17:05:51
Inovasi Guru
Komentar: 0
Dibaca: 5176 Kali

Dewi Kurniati, S.Pd – SD Kalimati Kabupaten Sumbawa Barat

Jadi guru itu yang penting ikhlas karena uang bisa dicari

Petuah itu terus terngiang-ngiang di benak Dewi Kuniati, S, Pd. Meski terkesan sederhana dan sepele namun diakuinya, justru hal itulah yang kemudian membuatnya tergerak untuk menjadi seorang pendidik. Adalah Niam Saputra, S,Pd., guru matematika favoritnya kala SMP yang tak bosan menanamkan nilai luhur tersebut. Diceritakan Dewi, demikian ia biasa disapa, meski sang guru belum berstatus PNS dan hidup dalam kesederhanaan namun hal tersebut tak lantas membuatnya berhenti berbagi pada anak-anak didiknya. Sebaliknya, hampir setiap hari guru idolanya tersebut memberi hadiah uang pada anak didiknya yang berhasil mendapatkan nilai tertinggi di mata pelajaran yang diampunya.

“Beliau itu suka sekali memberi kami permainan. Dan, siapa saja dari kami yang bisa mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran matematika, beliau selalu memberikan hadiah berupa uang. Jumlahnya tidak banyak, tapi lumayan untuk membeli jajanan. Pas saya tanya apa beliau tidak rugi kalau setiap hari harus memberi kami uang sebagai hadiah, jawaban itulah yang saya dapat, bahwa kalau menjadi guru itu yang penting ikhlas karena uang bisa dicari. Sejak itulah saya bercita-cita menjadi guru,” terang alumni jurusan keguruan, PGSD Universitas Mataram ini.

Tak hanya memberi nasihat yang terus membekas, diakui perempuan kelahiran Taliwang ini, ada hal lain dari sang guru yang terus menginspirasinya hingga hari ini; cara mengajarnya yang penuh dengan kreativitas dan jauh dari pola-pola konvensional.

“Ketika pelajaran lain membosankan, pembelajaran beliau itu selalu menyenangkan. Pak Niam itu selalu memanfaatkan peralatan-peralatan sederhana yang tersedia di dalam kelas, seperti bak sampah untuk mengajarkan matematika pada kami. Karena cara belajar yang asyik inilah, kehadiran beliau selalu kami nantikan. Meski saya tidak lagi mengingat konsep apa yang beliau ajarkan melalui pemanfaatan bak sampah tersebut, tapi kreativitas-kereativitas yang beliau kenalkan itulah yang terus tertanam di otak saya. Saya ingin menjadi guru yang kehadiran saya selalu dinantikan oleh murid-murid saya,” imbuhnya penuh haru.

Karena itulah, perempuan penyuka jalan-jalan ini lantas tak henti mencari-cari cara-cara menyenangkan untuk mengajarkan suatu materi pada anak-anak didiknya. Salah satunya adalah metode induktif kata bergambar, sebuah metode yang ia usulkan kala mengikuti proses pelatihan Guru BAIK yang diselenggarakan oleh INOVASI beberapa waktu lalu. Meski tak menampik bahwa metode ini tak murni datang dari idenya sendiri dan hanya pengembangan dari apa yang pernah ia pelajari sebelumnya, namun diakuinya cara ini cukup membuat kemampuan siswanya dalam membaca mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

“Murid-murid saya umumnya malas membaca soal dan cenderung hanya melihat angkanya saja. Karena itulah, mereka ini sering kebingungan kalau dapat soal cerita, apakah soal itu berupa perkalian, pembagian, pengurangan, atau penjumlahan. Selain itu, beberapa dari mereka juga bermasalah dengan ejaan. Karena itulah, saya memilih menggunakan metode induktif. Metode yang pernah saya pelajari semasa kuliah,” terang perempuan yang sangat menyukai mengajar matematika  ini.

 

Baca Juga :


Lebih lanjut diungkapkan Dewi, melalui teknik tersebut ia meminta murid-muridnya mendeskripsikan ciri-ciri hewan dari gambar-gambar yang telah ia sediakan. Sadar bahwa tak semua muridnya mampu mengeja dengan baik dan benar, ia pun memutuskan memulai metodenya dengan meminta anak-anak didiknya berlatih menyusun kata dan secara bertahap meminta mereka menyusun kalimat.

“Saya selalu berusaha memilih metode-metode yang sederhana supaya bisa saya terapkan secara konsisten. Dan yang paling penting, anak-anak jadi paham apa yang saya jelaskan. Buat saya, walaupun cara ini menuntut saya untuk aktif bergerak ke sana-ke mari, namun cara ini lebih mudah dan tidak semelelahkan kalau saya menggunakan metode ceramah karena dengan tersebut mau tidak mau saya pasti akan capek bicara. Itupun belum tentu siswa saya bisa terus fokus mendengarkan saya dan paham apa yang saya sampaikan,” ungkap perempuan yang sudah 3 tahun menjalani profesi sebagai guru ini.

Kesadaran ini, diakui Dewi makin menguat sejak ia berkesempatan mengikuti rangkaian workshop Guru BAIK INOVASI di Kabupaten Sumbawa Barat. Menurutnya, melalui pelatihan tersebutlah, ia seperti mendapatkan amunisi baru, tak saja terkait dengan metode-metode pembelajaran yang asyik dan menyenangkan, namun juga cara-cara membuat media pembelajaran yang menjadikannya memiliki lebih banyak ide untuk mengatasi permasalahan terkait pembelajaran, termasuk di antaranya trik mengatasi murid-murid bermasalah.

Workshop INOVASI seperti membangunkan saya dari tidur. Walaupun saya sudah tahu apa yang musti saya lakukan, namun sebelum ikut workhop saya belum tahu pasti harus berbuat apa. Sekarang, saya jadi lebih tahu harus berbuat apa. Saya juga semakin yakin kalau anak bisa baca, mereka akan bisa menguasai kemampuan dasar lainnya. Dan itu yang jadi harapan saya, membuat dan membantu murid-murid saya supaya mereka bisa membaca,” pungkasnya mengakhiri sesi wawancara.

 https://www.facebook.com/InovasiPendidikanAIP/

http://bit.ly/2wAo2dG



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan