logoblog

Cari

Tutup Iklan

Penguatan kemampuan berbahasa melalui kamus Bahasa Bima - Bahasa Indonesia

Penguatan kemampuan berbahasa melalui kamus Bahasa Bima - Bahasa Indonesia

Kerap dianggap sebelah mata, namun bagi beberapa orang, bahasa justru dipercaya dapat dijadikan penanda seberapa berkualitas isi kepala seseorang. Konon, makin

Inovasi Guru

Diah Utami
Oleh Diah Utami
12 Oktober, 2017 12:09:23
Inovasi Guru
Komentar: 0
Dibaca: 2380 Kali

Kerap dianggap sebelah mata, namun bagi beberapa orang, bahasa justru dipercaya dapat dijadikan penanda seberapa berkualitas isi kepala seseorang. Konon, makin beragam perbendaharaan kata seseorang, makin berkualitas pula isi kepalanya. Menariknya, meski sering dianggap sebelah mata, nyatanya belajar bahasa sama menantangnya dengan belajar matematika.

Seperti halnya yang dialami oleh murid-murid kelas 1 dan 2 di sekolah tempat Arnu mengabdi. Meski Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi sekaligus bahasa pemersatu bangsa, namun tak serta merta membuat anak didiknya mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dituturkan dia, laiknya anak-anak lain yang tinggal di kaki Gunung Laraji, anak-anak dari Dusun Diha ini terbiasa menggunakan bahasa ibu mereka ketimbang Bahasa Indonesia. Alhasil, tidak saja kemampuan berbahasa Indonesia mereka jauh tertinggal, kemampuan membaca mereka pun masih jauh panggang dari api. 

Bukan itu saja, ditengarai Arnu, ketiadaan taman kanak-kanak di Dusun Diha sedikit banyak ikut memiliki andil dalam ketertinggalan anak-anak ini. Faktanya, sebagian besar murid-muridnya memasuki jenjang sekolah dasar dengan kemampuan menulis dan membaca yang minim. Tak ayal, kondisi ini membuat perempuan kelahiran Mei 1978 ini musti memutar otak agar siswa-siswinya tak hanya mampu membaca, menulis, serta berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, namun juga agar mereka termotivasi untuk terus belajar.

“Mungkin, buat guru-guru lain, mengajar kelas rendah itu menantang. Tapi buat saya, mengajar kelas rendah justru menyenangkan. Karena menurut saya, anak-anak di usia ini masih mudah dibentuk, tergantung bagaimana kita mendidiknya dan pendekatan seperti apa yang kita gunakan,” terang alumni D2 PGSD Universitas Mataram ini.

Berbekal keyakinan tersebut, bu guru yang kerap disapa dengan panggilan Uwak oleh anak-anak didiknya ini kemudian menginisiasi penggunaan kamus Bahasa Bima – Bahasa Indonesia. Sederhana saja, berbekal narasi pendek seputar lingkungan di sekolah beserta gambar sederhana nan warna-warni berisi objek-objek yang termuat dalam narasi yang telah ia buat, Arnu pun mencoba membiasakan murid-muridnya untuk berbahasa Indonesia secara menyenangkan.

“Karena murid-murid saya masih belum bisa berbahasa Indonesia, saya mencoba membuatkan cerita pendek. Cerita itu kemudian saya terjemahkan dalam gambar dan kata-katanya saya tuliskan dalam kertas kamus dua bahasa, Bahasa Bima dan Bahasa Indonesia. Jadi, yang ada dalam gambar dan kamus itu adalah obyek-obyek sederhana yang biasa mereka jumpai ketika berangkat ke sekolah ataupun saat di sekolah. Contohnya, bagaimana kita menyebut sawah atau tiang bendera dalam Bahasa Bima dan Bahasa Indonesia. Gambar dan kertas kamus ini kemudian saya bagikan pada setiap murid, setelah itu saya ajak mereka keluar kelas untuk melakukan pengamatan bersama-sama,” ungkap perempuan yang sudah 15 tahun mengabdikan diri sebagai guru honorer di SD INPRES DIHA ini.

 

Baca Juga :


Inovasi ini, diakui Arnu, tak lepas dari pesan yang ia dapatkan kala menjalani perkuliahan di kampus dulu, bahwa setiap guru yang mengajar anak-anak itu semestinya melakukan persiapan dan sebisa mungkin menggunakan media pembelajaran. Sebab, masih menurut dia, tanpa keduanya seorang guru tidak akan bisa mengajar dengan maksimal.

Toh begitu, perempuan asli Ncera, Bima ini mengaku bila dirinya tak selalu dapat menyiapkan alat peraga yang dibutuhkan. Hal tersebut, menurutnya, tak lepas dari keterbatasan dana yang dihadapinya. Meski begitu, tak lantas ia menyerah. Sebaliknya, Arnu tetap mencoba mensiasatinya dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar.

“Pelatihan INOVASI ini membuat saya semakin yakin kalau ide itu bisa datang dari mana saja. Bahwa guru itu tidak boleh hanya berpatokan pada buku saja, tapi juga musti menggali hal-hal di luar itu. Guru juga harus mampu mengembangkan ide dan tema pembelajaran sebab guru punya tugas membina, mengajar, dan membina murid-muridnya,” pungkasnya mengakhiri wawancara.

http://bit.ly/2wsr6Fo



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan