logoblog

Cari

Tutup Iklan

Gelas Kopi Tambora, Ketika Berhitung Menjadi Lebih Mudah

Gelas Kopi Tambora, Ketika Berhitung Menjadi Lebih Mudah

Siti Nursaoda – SDN 07 Pekat, Dompu Mendidik anak-anak di daerah terpencil tentu bukan perkara mudah. Bukan cuma karena fasilitas yang

Inovasi Guru

Diah Utami
Oleh Diah Utami
17 November, 2017 16:34:45
Inovasi Guru
Komentar: 0
Dibaca: 1438 Kali

Siti Nursaoda – SDN 07 Pekat, Dompu

Mendidik anak-anak di daerah terpencil tentu bukan perkara mudah. Bukan cuma karena fasilitas yang yang terbatas. Sulitnya akses dan budaya setempat tak jarang kerap dituding sebagai faktor lain yang ikut jadi penghambat dalam proses mencerdaskan mereka. Konon, karena alasan-alasan itulah, tak banyak pendidik yang mau mengabdikan diri di daerah-daerah semacam ini.

Namun tak demikian dengan Siti Nursaodah. Meski sadar akan tantangan-tantangan yang akan dihadapinya, tak sedikitpun membuatnya menjadi gentar. Sebaliknya, perempuan kelahiran Dompu ini justu mantap mengabdikan diri di SDN 07 Pekat yang terletak nun jauh di kaki Gunung Tambora.

Diceritakan Saodah, begitu ia biasa disapa, mulanya, orangtua disana tidak terlalu tergerak untuk mengirimkan anak-anaknya ke sekolah. Alih-alih membiarkan buah hatinya pergi belajar, mereka justru lebih senang membawa anak-anaknya ke ladang atau mengumpulkan kayu.

Namun, kondisi tersebut perlahan mulai berubah. Perubahan itu, masih menurut dia, ditenggarai muncul semenjak para orangtua ini melihat “keberhasilan” yang telah dicapai oleh sekolah tempatnya mengajar.

“Beberapa murid lulusan sekolah kami sudah ada yang berhasil melanjutkan kuliah ke Jogja, Semarang, dan Makasar. Sepertinya, ini jadi semacam inspirasi bagi orangtua disana,” ujarnya membuka cerita.

Tak ingin kehilangan “momentum”, perempuan yang sudah mengajar selama 14 tahun ini pun bertekad untuk tak menutup diri terhadap perubahan. Agar orangtua dan terlebih anak-anak didiknya tetap bersemangat untuk berangkat ke sekolah dan belajar, ia pun tak ragu untuk terus menggali inspirasi dan mencoba metode-metode pengajaran baru yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas. Mengikuti workshop Guru BAIK INOVASI dan terlibat aktif dalam setiap prosesnya diakuinya merupakan salah satu wujud keseriusannya.

“Dulu, ketika mengajar saya tidak punya media ajar. Mindset saya waktu itu, media pembelajaran adalah produk yang musti saya beli di toko dan itu butuh biaya. Tapi, setelah ikut workshop INOVASI saya jadi terinspirasi. Workshop ini tak hanya membuat ilmu saya bertambah, tapi juga mengubah pola pikir saya. Dari diskusi dengan fasilitator-fasilitator yang mendampingi, saya jadi menemukan ide untuk menciptakan media ajar berbasis kearifan lokal,” ungkapnya sambil tersipu malu.

Alhasil, sepulang dari workshop Guru BAIK, bersama sang suami-yang kebetulan menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah tempatnya mengajar- ia pun mulai mengeksekusi ide yang ada di kepalanya. Bambu-bambu yang ada di sekitar rumah mulai mereka potong menjadi gelas. Agar lebih cantik, gelas-gelas itu lantas ia hias dengan biji-biji kopi yang ia ambil dari kebunnya. Agar gelas-gelas tersebut dapat digunakan sebagai media ajar, ia pun lantas menyisipkan angka 1 sampai 10 di setiap gelas.

Kala itu, ia berpikir memanfaatkan gelas-gelas tersebut untuk mengenalkan angka pada anak-anak didiknya. Maklum saja, murid-murid kelas 1 yang ia ampu masih banyak yang mengalami kesulitan dalam membedakan dan menuliskan angka.

“Tadinya, di sesi workshop saya mencoba menggunakan gelas-gelas plastik bekas minuman kemasan. Namun, saat saya ditantang oleh fasililtator pendamping untuk menerapkan media ajar berbahan gelas plastik itu, hasilnya sungguh tak sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Setelah mencoba menganalisa pernyebabnya dan menggali solusi-solusi untuk mengatasinya, jadilah ide membuat gelas berbahan bambu itu muncul. Apalagi, di daerah saya kan banyak bambu dan kopi,” paparnya.

 

Baca Juga :


Siapa sangka, ketika gelas-gelas itu ia bawa ke kelas dan ia perkenalkan pada murid-muridnya, sambutan mereka begitu luar biasa. Anak-anak ini, diceritakan Saodah, jadi begitu bersemangat untuk belajar. Pun, meski jam pelajaran sudah berakhir, antusiasme mereka untuk belajar angka melalui gelas warna-warni buatan Saodah tak lantas surut.

Hal lain yang membuat perempuan yang pernah terlibat di LSM Yayasan Bina Cempe ini bangga adalah peningkatan kemampuan anak didiknya dalam membedakan angka. Mereka, yang sebelumnya kesulitan membedakan angka 6 dan 9, diakui alumni PGSD Universitas Terbuka tersebut, kini tak lagi berkutat dengan masalah itu.

Keberhasilan tersebut lantas mendorongnya untuk menggunakan media ajar yang sama dalam mengenalkan konsep berhitung pada anak-anak didiknya. Sederhana saja, pada setiap gelas ia isikan biji kopi sesuai dengan angka yang tertera di masing-masing gelas. Dari sana, ia lantas menantang murid-muridnya untuk menghitung soal-soal penjumlahan yang ia berikan dengan menggunakan gelas dan biji kopi yang telah ia siapkan.

Agar tak ada murid yang tertinggal dalam pelajaran, perempuan yang pernah menjadi pengajar di SDN 19 Pekat ini memilih memberikan tantangan tambahan pada anak didiknya yang tergolong pintar. Mereka yang masuk kategori unggul di kelasnya, ia minta membentuk kelompok dan memilih teman-teman yang “kurang pintar” untuk bergabung dalam kelompok tersebut. Pada mereka yang berhasil membantu teman-temannya mengejar ketertinggalan, Saodah tak segan memberikan hadiah. Dituturkannya, cara ini ia pilih karena ia tak hanya ingin membuat siswa-siswinya pandai berhitung, namun juga memiliki kepekaan sosial.

“Mengarahkan anak-anak tanpa media bantu itu sangat menyulitkan. Pun, mengajar itu semestinya tidak cuma ceramah di depan kelas. Buktinya, selama ini saya sudah capek teriak-teriak di depan kelas, berulang kali menerangkan suatu konsep tapi tetap saja murid-murid saya kesulitan memahami. Sekarang, dengan adanya media ajar ini, saya jadi terbantu. Alhamdulillah jadi ada perubahan. Murid-murid saya jadi senang belajarnya, sampai-sampai mereka tidak mau berhenti, padahal sudah jam pulang,” jelasnya penuh haru.

Tak ingin ilmu yang dimilikinya hanya berhenti di kelasnya, penyuka buku ini mengaku tak segan membagi pengetahuan-pengetahuan baru yang diperolehnya selama workshop pada kolega-koleganya di sekolah. Terlebih, tak sedikit dari rekan-rekan guru tersebut yang mengajukan begitu banyak pertanyaan sejak dirinya memulai proses pembuatan media ajarnya tersebut.

“Saya bilang ini adalah hasil pelatihan guru-guru di INOVASI. Kita dituntut untuk kreatif dan menciptakan media pembelajaran. Itu pengertian saya tentang INOVASI. Terus saya buat ini untu materi ini, begitu saya jelaskan ke mereka. Sampai-sampai, gara-gara penjelasan saya itu, guru-guru lain terpikir untuk menciptakan media yang sama untuk materi-materi di kelas mereka,” pungkasnya mengakhiri wawancara.