logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mengubah Mindset Dengan Cara-cara Sederhana

Mengubah Mindset Dengan Cara-cara Sederhana

Yayu Yuliati, S.Pd – SDN Doridungga Bagi beberapa orang, merantau ke daerah atau negara lain kerap dianggap sebagai peluang emas. Sebuah

Inovasi Guru

INOVASI Pendidikan
Oleh INOVASI Pendidikan
05 Desember, 2017 10:18:35
Inovasi Guru
Komentar: 0
Dibaca: 11858 Kali

Oleh : Yayu Yuliati, S.Pd – SDN Doridungga Kabupaten Bima

 

Bagi beberapa orang, merantau ke daerah atau negara lain kerap dianggap sebagai peluang emas. Sebuah cara yang dipercaya tak hanya memperluas cakrawala berpikir, namun juga mengembangkan jejaring pertemanan. Mereka yang kemudian berhasil di tanah rantau, tak jarang, lantas enggan kembali ke tanah kelahiran. Kenyamanan dan fasilitas yang serba ada kerap jadi alasan.

Namun tak demikian dengan Yayu Yuliati. Merantau jauh ke Makassar tak lantas membuatnya lupa pada tanah kelahiran. Sebaliknya, perempuan kelahiran Wadukopa, kabupaten Bima ini justru memilih kembali ke kampung halaman dan mengabdikan diri, mendidik anak-anak di desa tempat ia dibesarkan. Menariknya, meski bidang studi yang dipilihnya kala kuliah di tanah rantau jauh dari bidang pendidikan dan anak-anak, perempuan 35 tahun ini justu mengaku menikmati profesinya sebagai guru.

“Latar belakang pendidikan saya memang sarjana kehutanan, namun kegemaran saya mengamati alam justru membantu saya melahirkan ide-ide inovatif dalam proses pembelajaran. Pulang ke kampung halaman itu adalah keputusan sadar, sebab saya ingin membangun daerah saya dan menciptakan generasi-generasi terbaik buat daerah saya. Saya ingin membantu anak-anak ini bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dan bisa meraih cita-cita yang mereka inginkan,” ujarnya saat membuka obrolan.

Berbeda dengan guru lain yang menganggap mengajar siswa kelas rendah jauh lebih “menantang”, bagi peraih penghargaan guru berprestasi 2015 ini, mengajar siswa kelas rendah justru menyenangkan. Baginya, anak-anak tersebut serupa gelas kosong yang bisa dengan mudah diisi informasi apa pun.

“Mengajar anak kecil itu penuh dinamika, tapi itulah menariknya. Dengan karakter mereka yang beragam, saya jadi merasa memiliki kewajiban untuk memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda, sesuai dengan karakter dan kondisi masing-masing siswa. Karena itulah, saya selalu mencoba menggunakan metode yang berbeda setiap harinya. Saya juga selalu menggunakan permainan untuk diselipkan di materi pelajaran. Saya percaya, asal konsep yang kita tancapkan benar, mereka pasti akan jadi pintar,” imbuhnya berapi-api.

Selain lewat permainan, alumni Universitas Hasanuddin, Makasar ini mengaku juga kerap mengajak anak-anak didiknya untuk melakukan pengamatan maupun mencoba bermacam alat peraga yang ada di kelas. Tujuannya, agar mereka lebih mudah menangkap dan memahami konsep-konsep apa yang ia ajarkan. Salah satunya adalah permainan kerikil yang ia terapkan untuk materi perkalian dalam pembelajaran matematika bagi siswa-siswinya di kelas 2.

 

Baca Juga :


Lebih lanjut diterangkannya, untuk mempraktikkan metode ini, peralatan yang ia butuhkan cukup sederhana, murah, dan mudah didapatkan. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengumpulkan sejumlah kerikil dan menuliskan angka 1-10 di ubin kelasnya. Selanjutnya, ia lantas mengajak murid-muridnya memainkan kerikil yang telah ia sediakan. Untuk perkalian 1x1 misalnya, ia akan meminta anak didiknya menyimpan 1 kerikil. Pun dengan perkalian 1x2, ia meminta mereka menyimpan 2 kerikil, begitu seterusnya.

“Sejauh ini, cara tersebut termasuk efektif. Bahkan, setelah bermain kerikil itu, mereka bisa menulis perkalian 1 sampai 10 dengan sendirinya, tanpa saya kasih tahu karena rupanya mereka sudah paham konsepnya. Mereka terus mencoba sendiri sampai ada satu anak datang ke saya,memberi tahu kalau dia sudah hapal. Sebagai apresiasi, saya lalu meminta dia menghapalkan di depan kelas, di depan teman-temannya. Cara ini membuat teman-temannya yang lain termotivasi untuk melakukan hal yang sama,” ungkapnya penuh haru.

Hal ini, diakui Yayu, cukup melegakan hatinya. Mengingat, ia tengah bertekad mengubah mindset  anak didiknya yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang menakutkan menjadi matematika sebagai pelajaran yang menyenangkan.

“Jadi, selain menyiapkan variasi alat peraga, saya juga menyiapkan variasi metode. Saya juga mencoba melakukan pendekatan ke anak-anak, menjelaskan kalau matematika itu sebenarnya tidak sulit dan bisa dibawa ke permainan. Dan itu menyenangkan untuk mereka. Buktinya, mereka pernah bilang kalau mereka suka kalau saya yang mengajar karena menurut mereka saya punya banyak cara, banyak permainan dan sering membawa mereka belajar di luar kelas,”terangnya menggebu-gebu.

Keberhasilannya mengubah mindset anak didiknya terhadap pelajaran menginspirasinya untuk berbagi pendekatannya dengan rekan-rekannya. Dituturkan mantan pengurus Himpunan Mahasiswa Kehutanan UNHAS ini, ia kerap mengajak guru-guru yang lain untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menciptakan metode-metode pengajaran, termasuk alat peraga, yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas.

“Padahal, kalau mau kreatif ya pasti bisa. Kalau teman-teman guru mau mengajar dengan metode yang lebih variatif, saya percaya kalau profesi guru ini akan disenangi oleh semua orang. Anak-anak akan semangat belajar dan kita akan makin termotivasi untuk mencari cara-cara baru yang membuat mereka semakin giat belajar,” pungkasnya mengakhiri wawancara.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan